Blackberry dengan gmail application

Banyaknya posting tentang Blackberry di blog ini tentu sudah memberikan indikasi bahwa saya adalah penggemar berat Blackberry. Of course, Blackberry rocks! Berulangkali saya berganti merek ponsel / PDA dengan berbagai macam tipe yang ditawarkan oleh masing-masing merek. Dari yang hanya memiliki fungsi-fungsi basic sampai yang lebih sophisticated. Belum pernah saya merasa benar-benar puas menggunakan produk-produk handset sebagaimana saya merasa nyaman menggunakan Blackberry jatah kantor, sebuah Blackberry jadul 7290 awal tahun ini.

Bahkan dengan handset yang sudah hampir menjadi fosil itu saya sangat terkesan. Handphone terakhir sebelumnya adalah SE P990i. Berpindah dari SE P990i ke BB 7290 merupakan sebuah kemunduran besar. Fitur-fitur keduanya tidak bisa dibandingkan, terlalu jauh. Setelah sedikit ‘berjuang’ untuk menyesuaikan diri dengan berbagai macam setting, keyboard, layout dan cara pengoperasian yang berbeda, ternyata saya justru ‘jatuh cinta’ pada benda ini. Tentu bukan karena model, justru 7290 untuk standar saat ini termasuk ‘aneh’, sama sekali tidak terlihat fancy. Bahkan terlihat jelek. Apalagi saya langsung memutuskan untuk hanya menggunakan satu handset. Sehingga kemana-mana hanya menenteng ‘benda aneh’ itu. Sementara sebagian besar orang -setidaknya di kantor saya- membawa-bawa dua handset, satu handphone (the fancy one) dan satu blackberry (the ugly one). Well, I’m not that kind of people, for me, carrying two handheld was simply too complicated.

Kehandalan Blackberry dalam menangani pekerjaan-pekerjaan berat -trafik email gila2an dan tentu saja pekerjaan-pekerjaan kantor- sangat cocok dengan apa yang saya butuhkan. Fungsionalitas email tentu tidak perlu dibahas lagi. Hingga saat ini, tidak ada mobile handset yang lebih baik dari Blackberry untuk menangani email. Tidaklah mengherankan karena memang sejak kelahirannya, Blackberry fokus pada komunikasi jenis ini. Blackberry pada awalnya adalah handset yang digunakan sebagai interactive pager. Voice dan SMS adalah ‘tambahan’ fungsi yang belakangan menjadi fitur standar Blackberry. Demikian pula tambahan fungsi multimedia dan koneksi data pita lebar (broadband). Di 7290, meskipun lambat, browsing dengan Blackberry tidaklah terlalu membosankan. Stabilitas yang menjadi kunci di sini. Blackberry hampir tidak pernah hang dan excellent dalam menangani sinyal radio yang diterimanya. Inilah yang membuat handset ini hampir tidak pernah lepas dari tangan saya.

SE P990i yang terkoneksi dengan Exchange Server -dan juga handset Windows Mobile atau beberapa tipe handset Symbian- juga memiliki kemampuan mirip Blackberry, push email. Tapi cobalah menggunakan handset ini untuk mengikuti mailing list hiperaktif dengan trafik lebih dari 500 email sehari. Jika email yang tersimpan di handset masih kurang dari 100, handset akan bekerja dengan normal. Artinya tidak ada penurunan performansi (menu responsiveness, kemungkinan untuk hang). Tapi begitu email sudah lebih dari 100, maka Symbian akan menjadi super duper lambat. Pernah juga saya menggunakan Windows Mobile. Baik Symbian maupun Windows Mobile hampir tidak ada perbedaan dalam performansi. Keduanya akan mabok untuk trafik berat. Belum lagi handheld akan segera kehabisan free space. Satu platform lagi yang belum pernah saya coba, iPhone.

Blackberry memiliki keunggulan dalam menangani tantangan seperti ini. Pengalaman saya, Blackberry masih bisa menyimpan ribuan email tanpa kehilangan performansi (akses menu tetap responsif). Handset Blackberry akan mulai melambat ketika free memory sudah terlalu kecil. Selain kehandalan push email, Blackberry juga melakukan kompresi terhadap data yang tersimpan. Kompresi ini akan menghemat banyak space di memory Blackberry yang sangat terbatas. Security juga masih yang terbaik. Koneksi melalui jaringan seluler di enkripsi secara end-to-end. Ini berarti jika ada orang iseng yang menangkap paket-paket data yang ditransmisikan melalui jaringan seluler, maka paket data itu sendiri tidak akan bisa terbaca. Di handheld data-data yang ada juga di enkripsi. Jika handheld dicuri orang, maka tidak ada jalan bagi orang tersebut untuk mengambil data-data yang tersimpan selama tidak mengetahui password. Jika ada yang mencoba-coba password dan salah, maka Blackberry akan melakukan self-wipe. Aman kan?

Pendeknya, Blackberry bisa menangani semua hal tersebut. Sangat cocok dengan kebutuhan saya (baik terkait dengan hobi maupun pekerjaan). Sekarang apakah saya bisa keep up? Ternyata tidak.

Ternyata saya akan merasa ‘terintimidasi’ setiap kali melihat inbox dengan unread message yang sedemikian banyak. Rapat satu atau dua jam dan ketika menengok inbox, sudah ada ratusan email masuk. Saya tinggal sebentar untuk menyelesaikan pekerjaan, maka saya akan menghabiskan banyak waktu untuk membuat jumlah unread messages menjadi nol lagi. Dan yang lebih parah, saya sering kesulitan menemukan email-email penting kantor di antara ribuan email lain. Kesimpulannya, saya tidak mampu menangani banjir email seperti ini. Benar, kondisi ini bisa dengan mudah diselesaikan dengan melakukan Delete Prior Messages, tapi tetap saja saya harus melakukannya satu persatu untuk masing-masing account.

Bukannya semakin produktif, malah semakin banyak waktu yang tersita hanya untuk membaca email. Akhirnya, saya memutuskan untuk ‘melepas’ semua email account yang terkait dengan mailing list. Sesekali masing-masing account akan saya tengok hanya sekedar untuk melakukan Mark All as Read :)

Tapi memutuskan hubungan ternyata juga bukan solusi yang pas. Saya banyak kehilangan informasi-informasi up to date. Informasi-informasi tersebut adalah ilmu yang terkait dengan minat saya. Hal-hal yang memang pada dasarnya saya sukai. Segala macam trik, tips dan ilmu lain terkait gadget. Ketika saya cek lagi -melalui laptop tentunya- saya sudah banyak ketinggalan. So?

Ternyata ada jalan tengah, aplikasi gmail. Aplikasi ini bisa di download secara gratis dari Google. Dalam versi yang terakhir, rupanya telah banyak pengembangan yang memungkinkan pengguna untuk terhubung ke beberapa account sekaligus. Saya sudah pernah menginstall aplikasi ini di SE P990i dan menyerah. Meskipun 3G enabled, tapi -waktu itu- mengakses account gmail melalui P990i dan gmail app sangat lambat. Gmail versi yang terakhir (2.0.5) ternyata sudah jauh lebih cepat dari yang sebelumnya pernah saya coba (tapi jangan dibandingkan dengan push email Blackberry, tentu saja Gmail akan kalah jauh dalam hal kecepatan). Yang terpenting, meskipun aplikasi ini dirancang untuk platform 4.2, tapi rupanya berjalan sangat stabil di 4.5.

Tampilan aplikasi ini sama saja dari dulu. Tidak ada perubahan signifikan. Berusaha mimic tampilan gmail versi desktop.

Tampilan aplikasi gmail di blackberry 8310

Berikut beberapa keuntungan menggunakan aplikasi gmail :

  • Nyaman. Dengan gmail, maka saya tidak akan merasa ‘terintimidasi’ dengan angka unread messages yang tertera di bagian atas layar. Ini adalah trik sederhana untuk memanipulasi pikiran saya sendiri.
  • Lebih efektif membaca mailing list. Saya bisa membaca email berdasarkan thread. Secara alami, mailing list merupakan forum diskusi untuk menanggapi suatu thread. Dengan pengelompokan berdasarkan thread ditambah dengan shortcut khas Blackberry dalam menangani email, membaca mailing list terasa jauh lebih menyenangkan. Simple dan cepat.
  • Free memory lebih banyak. Karena tidak di-push ke handheld, maka saya tidak lagi repot menghapus email-email yang sudah terbaca. Memory terasa jauh lebih lega. Sebelumnya, dalam sehari, jika seluruh email dari seluruh mailing list saya biarkan masuk ke handheld, maka memory free sudah akan jauh berkurang.
  • Searchable. Setiap saat diperlukan, saya bisa dengan mudah mencari email-email terdahulu di seluruh mailbox gmail (dan mailbox lain yang di host di gmail).

Tidak ada sesuatu yang sempurna. Di antara kelebihan-kelebihan di atas, ada kekurangan-kekurangan yang menyertai, antara lain:

  • Tidak real time. Email tidak lagi di-push ke handheld. Pada dasarnya gmail melakukan pengecekan ke mailbox untuk setiap periode tertentu. Jika ditemukan email baru, maka dia akan mendownload ke handset. Hal ini mengakibatkan saya kadang agak terlambat menanggapi email di mailing list. Tapi karena memang saya tidak berniat menjadi yang tercepat dalam menanggapi sebuah thread di mailing list, maka kekurangan ini tidak menjadi masalah.
  • Battere lebih boros. Karena aplikasi gmail di handheld bersikap aktif, mancari koneksi dan melakukan pengecekan ke mailbox, maka batere cenderung lebih cepat terkuras. Ini berbeda dengan model push di mana server lebih aktif. Batere di handheld menjadi lebih irit.

 

Menggunakan aplikasi gmail (istilah teman-teman Amplop Merah) ternyata sangat membantu saya untuk tetap up to date dengan komunitas dan sekaligus memproteksi diri agar produktifitas tetap tinggi. Ada satu pengembangan dari google yang sangat saya harapkan, mengubah metode pull menjadi push. Dengan demikian dua kekurangan dalam list di atas akan terselesaikan.

Tampilan messages today

Gambar di atas adalah isi Inbox Messages saya setelah menggunakan aplikasi gmail (note: kebetulan sedang tidak banyak pekerjaan dan trafik email kantor hanya berisi email-email iseng). Hanya email kantor (dengan BES) dan satu account gmail pribadi yang saya push ke handheld. Hidup dengan Blackberry, bersama ribuan email setiap hari, ternyata menyenangkan :)  

Comments

Maaf, Mac, Blackberry sampai Chrome

Wow, lama sekali saya tidak posting di sini. Posting terakhir adalah dua bulan lalu. Jangankan posting, menengok sebentar ke sini saja tidak pernah :)

Hari ini, karena tidak ada hal lain yang harus saya lakukan, maka iseng-iseng saya tengok website sekaligus blog ini. Rupanya ada beberapa orang yang mampir dan sempat meninggalkan komentar. Mohon maaf bagi yang pernah meninggalkan komentar dan ‘dicuekin’. Maklum, akhir-akhir ini saya memang jarang merasa perlu menulis sesuatu. Kalaupun ada catatan-catatan pribadi, tidak ada yang worth it untuk dishare di sini. Mohon maaf pula bagi beberapa rekan yang mengirimkan email menanyakan sesuatu (biasanya tentang upgrade Blackberry). Kadang email anda ‘tenggelam’ di antara ribuan email yang masuk handheld saya setiap hari. Ada pula kawan lama yang sempat menengok sebentar ke sini. Matur nuwun sempat mampir.

Tidak pernah membuka halaman web ini bukan berarti saya jauh dari internet. Sama sekali tidak. Bahkan sebaliknya, saya hampir tidak pernah terputus dari internet. Indikator paling mudah adalah status Y!M. Teman-teman dekat saya akan melihat bahwa status Y!M saya hampir tidak pernah off :)

Saya juga nyaris tiap hari bertegur sapa dengan teman-teman melalui facebook (kadang-kadang juga friendster) dan ngobrol dengan teman-teman lain melalui mailing list maupun Y!M. Kehidupan saya memang sudah banyak beralih ke kehidupan online. Karena itulah, lebaran tahun lalu, ketika pulang kampung saya sempat kelimpungan beberapa hari seperti orang sakaw, hehe…. Di Jakarta saya tidak pernah kehilangan sarana untuk online. Kantor dan rumah sudah ada broadband. Selalin di kedua tempat tersebut, ada koneksi GPRS / EDGE / HSDPA yang tidak pernah terputus.

By the way, setelah dua bulan tanpa posting. Hari ini Laptop saya masih tetap sama, MacBook white 10.5.4 seperti gambar berikut. Belum ada major update dari Apple.

My Mac Status 7 September 2008

Untuk Blackberry, saya masih menggunakan OS 4.5.0.52 sebagaimana diperlihatkan dalam Status berikut.

My BB Status 7 September 2008

Memang sudah ada 4.5.0.69 dan saya juga sudah download. Tapi berhubung 4.5.0.52 terasa lebih stabil, saya memutuskan untuk downgrade. Mac dan Blackberry ada dua gadget andalan saya. Sejauh ini, keduanya telah banyak membantu mempermudah hidup saya.

Beberapa waktu lalu, Google membuat berita besar dengan merilis browser barunya, Google Chrome. Kehadiran Chrome meramaikan pasar browser yang saat ini dikuasai oleh Internet Explorer, kemudian dikuntit oleh Firefox dan dalam proporsi yang tidak terlalu signifikan Opera dan Safari. Saya pribadi paling banyak menggunakan Safari di laptop, kadang-kadang Firefox dan untuk keperluan yang sangat spesifik menggunakan Internet Explorer, yaitu untuk mengakses aplikasi intranet yang HANYA bisa berjalan dengan baik di IE (Hi IT guys, c’mon, you can do it better).

Google memberikan penjelasan yang menarik dalam sebuah seri comic strip mengenai bagaimana Chrome berbeda dengan browser lain yang sekarang beredar. Pada dasarnya Google ingin membuat Chrome beroperasi seperti sebuah Operating System modern. Chrome dirancang untuk menjadi sebuah platform yang handal bagi aplikasi-aplikasi berbasis web. Google percaya bahwa di era cloud computing, diperlukan browser yang handal, cepat dan tentu saja aman.

Chrome saat ini baru ada di platform Windows. Sebagai pengguna Mac saya belum berkesempatan untuk mencoba browser baru ini. Sempat mencoba untuk download di Parallels, tapi lingkungan Windows XP yang sudah lama saya tinggalkan membuat saya merasa kurang nyaman. Akhirnya, saya memilih pasrah untuk menunggu versi Mac saja. Selain menjanjikan Chrome untuk Mac dan Linux, Google juga berencana untuk membawa browser ini ke kancah lain, mobile.

Mobile browsing secara sederhana bisa diartikan mengakses halaman-halaman web melalui perangkat telepon genggam atau PDA. Jadi mobile browsing bukan berarti mengakses halaman-halaman web dengan laptop. Tantangan terbesar dalam mobile browsing adalah layar yang sempit dan kekuatan prosesor yang terbatas. Koneksi bisa menggunakan HSDPA atau WiFi yang sudah cukup kencang. Untuk dapat diakses secara optimal melalui layar sempit sebuah telepon genggam, halaman-halaman web biasanya dioptimalisasi dengan membuatnya menjadi sesederhana mungkin. Untuk meringankan beban prosesor, maka komponen-komponen yang tidak perlu banyak yang dibuang. Meskipun kekuatan prosesor PDA dewasa ini sudah lebih besar dibandingkan dengan kekuatan IBM PC XT, komputer pertama yang saya kenal tahun 1991 lalu.

Sejauh ini ada beberapa browser yang banyak digunakan dalam mobile browsing. Tentu saja yang paling populer saya kira adalah Operamini. Browser ini bersifat cross platform, bisa digunakan di Symbian, Windows Mobile, bahkan Blackberry. Selain opera, masing-masing Operating System mobile memiliki browser native sendiri-sendiri. OS X yang digunakan di iPhone menggunakan Safari, Blackberry memiliki versi browser sendiri dan tentu saja Internet Explorer di Windows Mobile. Nah, Chrome barangkali nantinya akan menjadi native browser di telepon genggam atau PDA berbasis Android.

Comments

Leopard 10.5.4 dan MS Office 12.1.1

Sejak minggu kemarin, saya sudah menerima berita tentang munculnya Leopard 10.5.4 dan juga MS Office 12.1.1. Saya menunda untuk segera melakukan download karena ternyata di kantor link untuk download diblok oleh firewall. Berbeda dengan kondisi beberapa waktu lalu ketika saya melakukan upgrade dari 10.5.2 ke 10.5.3, waktu itu saluran internet di kantor masih relatif terbuka dan saya dengan mudah bisa mendownload update tersebut.

Ternyata minggu lalu firewall kantor semakin memperketat akses ke internet. Memang sangat menyebalkan, tapi saya tidak memiliki pilihan lain. Download melalui Datacard dengan HSDPA adalah opsi yang bisa saya tempuh. Tapi saya hanya memiliki quota sebesar 1,5 GB dan sayang rasanya menggunakan quota tersebut untuk mendownload update software. Opsi lain adalah mendownload dari rumah. Meskipun bandwidth hanya 384 kbps, tapi saya bisa download sebanyak yang saya mau.

Berhubung minggu lalu saya berada di luar kota, maka download update software saya tunda sampai tadi malam. Sial, semalam koneksi Fastnet nampaknya tidak normal. Saya bisa mendownload update dari Apple tapi tidak bisa mendownload dari Microsoft. Akhirnya terpaksa saya menggunakan Datacard.

Setelah kedua update terinstall, improvement langsung terasa. Leopard terasa sedikit lebih cepat. Cisco VPN client juga berjalan lebih stabil. Permasalahan printer yang seringkali muncul setelah update OS kali ini tidak ada. Di Office 2008, saya merasakan improvement stabilitas juga. Semoga kedua update ini akan menjadikan MacBook white saya lebih bandel seperti iMac di rumah yang menggunakan Tiger 10.4.11 :)

Comments

Download day for Firefox 3

As most people who spent their time online and read all the attemp Mozilla posed to break the record, today is the download day. Firefox 3 is now official. As early as I plug my Macbook to the internet this morning, I hurriedly downloaded the dmg file and installed the new browser. I have four plugins on my Firefox but actually only use one of them, QuickProxy. I noticed that this particular add on was already ported to Firefox 3 and proceed to launch the glorious new browser.

Now, I’m not gonna make a review of something like that. This post is solely written as my own note that today, I also participated on Mozilla’s record breaking attemp. There are several things to be noted tough. New interface, of course, what’s the point of having a new browser without a new interface? It’s default theme is a little bit darker than the old one, it’s more like Safari’s color. Firefox 3 is also noticably faster that the old one. I’m using the same connection, opening the webpages I usually checked every morning (detik, kompas and internal website). It was opened completely in less than a second ! increadibly fast.

That’s it. I have many things to do today. So I have to start it early in the morning.

Comments

Update Leopard 10.5.3

Sejak pertama kali menggunakan Mac awal tahun lalu, baru kali ini ada update yang sebesar 420 MB. Saya baca minggu lalu ketika masih berada di tepi pantai Kuta menikmati sunset :)

Dari beberapa teman yang segera download dan melakukan update, ada beberapa yang mengalami kesulitan. Mulai dari file update yang sedemikian besar, freeze ketika restart (sudah didiamkan satu jam lebih tidak ada reaksi apa-apa), dst. Testimoni teman-teman di id-mac maupun id-apple membuat saya agak malas melakukan update. Apalagi saya tidak mengalami problem-problem berat dengan 10.5.2. Beberapa masalah sudah bisa diselesaikan dengan berbagai trik yang saya tulis di blog ini juga.

Siang tadi, saya salah tingkah di meja cubicle. Menganggur. Tidak ada yang saya kerjakan secara spesifik. Akhirnya daripada bengong dan browsing tidak jelas, saya download update. Awalnya mau saya download melalui link direct. Rupanya karena ada url dengan kata ‘download’, proxy di kantor langsung refuse. Koneksi ditolak. Payah. Terpaksa saya download melalui software update.

Waktu di Bali, bisa dikatakan saya termasuk fakir bandwidth. Posisi ruang meeting ada di basement hotel. Sinyal seluler yang bisa menembus sampai ruangan hanya EDGE. Cek kuota datacard, ternyata sudah over limit pula. Lagipula online di laptop juga tidak penting-penting banget. Email sudah pasti dihandle oleh Blackberry. Browsing sudah sangat jarang saya lakukan karena hampir semua interest sudah terkumpul di Google Reader yang saya fetch langsung ke Blakcberry pula. Urgensi online dengan datacard minim sekali.

Sampai rumah, dengan koneksi 384 kbps, sebenarnya lumayan juga. iMac di rumah yang masih menggunakan Tiger saya update, sekitar 130 MB dan memerlukan waktu satu jam untuk download. Jadi kalau lancar, update Leopard akan menghabiskan waktu kira-kira 3-4 jam untuk download saja. Kebetulan sedang ada adik di rumah. Saya tahu dia menggunakan bandwidth secara intensif. Kalau saya sikat download, pasti hampir tidak akan ada sisa bandwidth lagi. Saya urung melakukan update di rumah.

Di kantor, dengan bandwidth yang menurut speedtest.com bisa sampai 3.5 Mbps, kadang malah lewat sampai 5 Mbps, download jumbo update Leopard butuh waktu…. 2 menit. Hehe… benar, hanya dua menit. Minggu lalu saya download Linux hampir 2 GB juga hanya butuh waktu kira-kira 15 menit.

Download lancar jaya. Langsung restart. Tunggu sebentar. Restart lagi. Tunggu agak lama. Restart dan selesai. Keseluruhan proses (termasuk download) hanya memakan waktu total kira-kira 10 menit. Surprise. Begitu masuk, yang pertama saya rasakan adalah loading aplikasi-aplikasi yang berjalan sedikit lebih cepat. Lainnya? belum tahu. Yang pasti, printer yang biasanya bermasalah setelah update sekarang lancar. Sudah saya test :)

Comments

Update untuk OS 4.5

Minggu lalu saya menulis tentang kegagalan dalam menginstall OS 4.5. Meskipun sudah berhasil jalan sekalipun, saya tetap merasa kurang sreg menggunakannya. Alasan terbesar adalah kegagalan dalam Enterprise Activation. Sejak masih menggunakan .10, kemudian .18 dan terakhir .37, EA selalu terhenti pada sekitar 30%. Rekor tertinggi yang pernah tercapai adalah 39%. Dugaan saya, karena BES belum diupdate sehingga OS baru di handheld berlum sepenuhnya didukung.

Kemarin kebetulan dalam mailing list id-bb disinggung mengenai OS beta release ini. Iseng-iseng saya tanyakan ke teman-teman apakah ada yang mengalami hal yang sama. Rupanya teman-teman lain yang menggunakan BES semua sukses. Hints baru yang saya dapatkan adalah aktivasi melalui kabel USB. Sebelumnya saya selalu menggunakan wireless activation.

Sepertinya worth it to try. Sekitar jam 6 sore kemarin, saya mulai wipe handheld dan install OS 4.5.0.37. Percobaan pertama langsung berhasil. Saya menggunakan metode loader /nojvm untuk wipe. Sekarang waktunya masuk ke bagian yang lebih menegangkan, yaitu EA. Kali ini saya tidak menggunakan metode wireless seperti biasa. Untuk memastikan saya mencabut SIM Card. Kemudian untuk lebih memastikan DM melakukan fresh activation, tidak terpengaruh dengan aktivasi-aktivasi yang pernah dilakukan sebelumnya, maka saya juga melakukan fresh install Desktop Manager.

Aktivasi berjalan seperti biasa, indikator progress aktivasi juga muncul di handheld seperti biasa. Awalnya agak lambat, bahkan cukup lama berhenti pada angka 10%. Saya sempat mengira progress akan berhenti sampai di angka itu, tapi setelah dilihat lebih lanjut, terlihat bahwa ada progress untuk masing-masing item. Saya biarkan proses terus berjalan. Ketika progress sudah melewati angka 30%, kelegaan pertama datang. Apalagi sebentar kemudian loncat ke 50%, setidaknya ini sudah merupakan rekor baru. Progress terus berjalan dan terhenti cukup lama di angka 90-95%. Setelah agak deg-degan menunggu, akhirnya activation completed. Total waktu untuk aktivasi mungkin sekitar 20-30 menit.

Tentu ini sudah hebat sekali. Begitu wireless saya hidupkan, hampir 100 email masuk (memang kira-kira sejumlah itulah email yang saya terima dari berbagai mailing list setiap jam). Lapor ke id-bb sekaligus test email.

Tantangan berikutnya adalah berbagai aplikasi yang selama ini saya gunakan. Dulu saya berhasil install dan membuat semuanya berjalan normal, kali ini tentu hampir pasti bisa juga. Viigo, YahooMessanger, Twitter, Facebook, GoogleSync, GoogleMaps, BBMaps dan seluruh aplikasi standar bawaan OS bisa berjalan dengan baik. Yes, sekarang Blackberry 8310 AT&T Titanium Black saya sudah merdeka, hehe….

Comments (1)

OS 4.5.0.37

Kemarin pagi, ada teman mengirimkan buzz ke BB saya. Dia menanyakan apakah saya sudah menggunakan .37? Kami sama-sama pecinta Mac dan BB. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, saya langsung paham, tentu ini berkaitan dengan OS yang saya digunakan di BB. Sekitar satu bulan lalu kami memang saling bertukar informasi tentang OS 4.5 yang di mailing list id-bb disebut sebagai OS kemerdekaan.

Saya sendiri sudah berulang kali menginstall, menghapus, kemudian menginstall lagi OS 4.5. Ada dua versi OS yang pernah saya install. Pertama adalah 4.5.0.10 yang saya temukan di torrent. Kemudian 4.5.0.18 yang saya temukan melalui forum di Crackberry.com. Untuk versi yang terakhir, hampir semua fungsi berjalan dengan baik. Aplikasi-aplikasi BB dapat digunakan dengan lancar. Saya menuliskan sebagian besar pengalaman menggunakan OS 4.5.0.18 di sini. Everything was just fine, kecuali satu, handheld saya tidak dapat berkomunikasi dengan baik dengan BES. Enterprise Activation hampir selalu berhenti pada kisaran 30-35 persen.

Pada awalnya, ketidakadaan BES tidak terlalu mengganggu. Fungsi email berjalan dengan lancar, phonebook dapat tersinkronisasi dengan baik. Setelah beberapa hari saya mulai merasa kehilangan. Data-data lain yang ada dalam handheld tidak terbackup dan tersinkronisasi secara otomatis ke sistem. Ini semakin terasa mengganggu ketika saya menyadari bahwa saya kehilangan banyak data ketika melakukan beberapa percobaan lain. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke OS 4.2 yang sudah pasti lebih stabil dan semua fitur dapat berjalan dengan lancar. Tentu saya kehilangan hal-hal baru yang ditawarkan dari OS 4.5.

Buzz dari teman saya kemarin pagi tiba-tiba memunculkan keinginan untuk mencoba kembali. Versi lebih baru yang diinformasikan teman saya cukup menggoda. Apalagi sore harinya, setelah makan siang praktis tidak ada hal yang saya kerjakan. Akhirnya dimulailah proses wiping handheld untuk upgrade OS lagi.

Tapi rupanya kali ini saya kurang beruntung. Pada saat penghapusan data-data sedang dilakukan, Paralells crash. Entah yang freeze Windows-nya atau Paralells-nya. Handheld kesayangan saya tiba-tiba berubah menjadi seonggok barang elektronik tidak berguna. Duh, yang jelas OS lama sudah terhapus, entah sebagian atau seluruhnya. Handheld tidak bisa booting. OK, saya coba kembali menghubungkan ke Desktop Manager. Daaang. DM tidak pernah mendeteksi handheld tersebut.

OK, don’t panic, kata saya dalam hati. Selama ini, berkali-kali saya melakukan penghapusan OS, install kembali, upgrade, downgrade. Tidak pernah sekalipun mengalami hal ini. Berhenti di tengah jalan dan handheld tidak lagi terdeteksi. So? It was a big problem for me. Selama hampir dua jam berikutnya saya berkutat pada masalah koneksi ini. Biasanya mudah sekali mencari-cari solusi masalah seperti ini kalau saya connect ke internet, tinggal bertanya ke paman Google. Masalahnya, saya hanya membawa satu kabel USB dan kabel itulah yang saya gunakan untuk connect dari MB ke BB. Koneksi ke internet bisa saya lakukan dengan datacard, tapi kabelnya?

Hari sudah maghrib, setelah sholat kami langsung menuju ke tempat makan bersama. Kembali ke Hotel baru sekitar jam 20.30. Langsung mempersiapkan peralatan perang di meja dan memulai berbagai percobaan yang agak-agak berbahaya di BB.

Setelah berbagai percobaan yang gagal, termasuk menggunakan jurus JL_CMDER, akhirnya BB bisa connect dengan sedikit trik yang saya dapat dari Blackberry forum. Buka Application Loader, tapi tidak melalui Desktop Manager. Akses langsung ke file loader.exe. Tentu DM tidak sedang running, BB tidak connect DAN battery dilepas. Begitu sudah masuk ke loader, connect BB ke PC, dan ketika muncul USB:UNKNOWN atau USB:BBPIN di status koneksi, segera klik next. Cara ini akan memaksa loader untuk melakukan prosedur yang ‘agak’ tidak normal. Jika normalnya loader akan memeriksa berbagai macam kondisi sebelum menyatakan bahwa koneksi siap, dengan cara ini kita yang memaksa loader segera masuk ke step berikutnya meskipun belum melakukan pengecekan menyeluruh. Sekarang BB sudah bisa connect dengan MB. Satu masalah terpecahkan.

Sekarang loading OS ke handheld. Percobaan pertama gagal, handheld tidak dapat melakukan inisialisasi. OK, itu karena tidak ada battery. Diulang lagi dari awal, kali ini begitu sudah connect, OS mulai loading, battery saya masukkan ke handheld. Semua terlihat normal, sampai ditengah proses loading aplikasi (OS nampaknya sudah berhasil masuk), Apploader berhenti lagi. Daaamn. Peringatan fatal error muncul.

Rupanya saya masih berusaha untuk melakukan loading OS 4.5, my mistake. Sekarang saya uninstall OS 4.5, kembali ke OS 4.2 terakhir dari AT&T. Ulang lagi dari awal, voila, success. Setelah sekitar satu setengah jam berputar-putar, akhirnya saya berhasil melihat icon AT&T untuk pertama kali setelah handheld sekarat sore harinya. Jam 22 malam, coba call ke rumah (I missed my kids so much), no answer, send sms and back to the handheld.

OK, BES belum aktif, tapi saya perlu satu kabel lagi. Untunglah, ada teman yang ternyata membawa kabel USB untuk kameranya. Tapi ketika akan melakukan aktivasi BES, saya kembali tergoda pada OS 4.5, sial benar. Dengan prosedur normal, saya coba install lagi. Guess what? gagal lagi, kekeke…. OK, that’s enough. Lebih parah lagi setelah itu susah sekali install ulang OS, meskipun saya kembali berusaha untuk memasukkan OS 4.2. Sampai saya tertidur sekitar jam 00.30, percobaan loading OS belum juga berhasil.

Subuh saya bangun, cek komputer, sial, proses freeze ditengah. OK, akhirnya saya ulang semuanya dari awal lagi. Termasuk komputer, saya restrart, mulai dari prosedur connect, loading dst. Untunglah, pagi tadi hanya cukup satu kali percobaan, OS sudah terinstall dengan baik. Load aplikasi-aplikasi lain, normal. Aktivasi BES lewat DM, berhasil. Setting ulang option-option dan download third party apps dan sekarang BB sudah kembali normal, sehat wal afiat.

Setelah saya ingat-ingat kembali. Paralells mulai menjadi tidak stabil sejak saya aktifkan automatic update di Windows XP. Terus terang, Windows yang terinstall di Parallels (termasuk Paralells sendiri) adalah software b*****n. Masih terlalu mahal buat saya untuk membeli software-software tersebut (meskipun untuk software-software kecil dan relatif murah saya cenderung untuk membeli dibandingkan menggunakan yang bajakan). Semalam saya bahkan harus menghapus parallels dan install ulang Windows karena sistem menjadi super duper rentan. Biasanya jika ada satu program crash di Mac OS X, hanya program ini yang akan freeze dan quit. OS X dan aplikasi lain akan tetap hidup dengan sehat. Tapi semalam saya mengalami lebih dari lima kali freeze total. Satu-satunya cara untuk keluar adalah menekan tombol power agak lama untuk memaksa komputer release dari seluruh power supply.

OK, ini pengalaman bagus. Kalau tidak mengalami kegagalan kemarin, mungkin saya tidak akan pernah tahu rasanya mengalami error 200 atau error 507 :))

Comments